Air Liur+Buah = Obat Cancer”

Photo: BANTU SHARE PADA TEMAN</p> <p>JANGAN ABAIKAN, TOLONG DI BACA:</p> <p>Anda dapat menyelamatkan nyawa seseorang dengan share ini.</p> <p>Air Liur+Buah = Obat Cancer"</p> <p>Dr. Stephen memperlakukan pasien sakit Cancer dgn cara yg "un-ortodoks" & banyak pasien Sembuh!</p> <p>Ia percaya pd penyembuhan alami dlm tubuh terhadap penyakit.</p> <p>Obat utk Cancer sdh ditemukan!</p> <p>Anda percaya?</p> <p>Saya berdukacita bagi pasien cancer yg meninggal di bwh perawatan konvensional.</p> <p>Pasien cancer tdk seharusnya mati !</p> <p>Menurut DR. Shu, 3 generasi Sinshe di Taiwan:</p> <p>Makan buah segar dan caranya!</p> <p>Ini sangat informatif!<br /> Umumnya makan buah berarti membeli buah, cuci, memotongnya & masukkan ke dalam mulut kita?</p> <p>Tapi tidak semudah yg kita pikirkan! Pengetahuan penting bagaimana & kapan harus makan buah.</p> <p>Cara yg tepat makan buah;</p> <p>+ TIDAK MAKAN BUAH-BUAHAN.</p> <p>SETELAH ANDA MAKAN.</p> <p>+ BUAH HARUS DIMAKAN PD SAAT PERUT KOSONG.</p> <p>BUAH ADALAH MAKANAN PALING PENTING!</p> <p>BAHAYA! Buah bercampur dgn makanan lain akan membusuk & menghasilkan gas sehingga lambung akan kembung!</p> <p>Menurut penelitian Dr Herbert Shelton;</p> <p>Jika Anda telah menguasai cara yg benar makan buah2an,</p> <p>Anda memiliki;</p> <p>umur panjang,</p> <p>selalu sehat,</p> <p>Penuh energi,</p> <p>tubuh dan pikiran jadi nyaman & berat badan normal.</p> <p>Makan buah yg utuh segar dan bersih (Bukan buah/Juice kemasan kaleng/botol Plastik) lebih baik dari pada minum jus.</p> <p>Tapi jika terpaksa minum jus, maka minumlah seteguk demi seteguk secara perlahan, karena Anda harus membiarkannya bercampur degan air liur Anda sebelum menelannya.</p> <p>MINUM AIR ES SETELAH MAKAN = KANKER!!</p> <p>Air dingin akan membuat makanan yang berminyak menjadi solid (beku)!.</p> <p>Hal ini akan menghambat proses pencernaan.</p> <p>Ketika 'lumpur' tsb bereaksi dgn asam, maka akan jadi lemak bertoksin(Racun) & berbaris di dalam usus dan terserap dng sangat cepat! Sehingga menyebabkan Cancer!</p> <p>Cara Terbaik adalah;</p> <p>* Minum air hangat setelah makan<br /> * Makan buah segar saat perut kosong.</p> <p>(Buah + Air Liur Manusia = Obat Cancer).<br /> =======<br /> Note:<br /> Ini adalah gambar pembedahan perut ketika proses operasi kanker lambung.

Dr. Stephen memperlakukan pasien sakit Cancer dgn cara yg “un-ortodoks” & banyak pasien Sembuh!

Ia percaya pd penyembuhan alami dlm tubuh terhadap penyakit.

Obat utk Cancer sdh ditemukan!

Anda percaya?

Saya berdukacita bagi pasien cancer yg meninggal di bwh perawatan konvensional.

Pasien cancer tdk seharusnya mati !

Menurut DR. Shu, 3 generasi Sinshe di Taiwan:

Makan buah segar dan caranya!

Ini sangat informatif!
Umumnya makan buah berarti membeli buah, cuci, memotongnya & masukkan ke dalam mulut kita?

Tapi tidak semudah yg kita pikirkan! Pengetahuan penting bagaimana & kapan harus makan buah.

Cara yg tepat makan buah;

+ TIDAK MAKAN BUAH-BUAHAN.

SETELAH ANDA MAKAN.

+ BUAH HARUS DIMAKAN PD SAAT PERUT KOSONG.

BUAH ADALAH MAKANAN PALING PENTING!

BAHAYA! Buah bercampur dgn makanan lain akan membusuk & menghasilkan gas sehingga lambung akan kembung!

Menurut penelitian Dr Herbert Shelton;

Jika Anda telah menguasai cara yg benar makan buah2an,

Anda memiliki;

umur panjang,

selalu sehat,

Penuh energi,

tubuh dan pikiran jadi nyaman & berat badan normal.

Makan buah yg utuh segar dan bersih (Bukan buah/Juice kemasan kaleng/botol Plastik) lebih baik dari pada minum jus.

Tapi jika terpaksa minum jus, maka minumlah seteguk demi seteguk secara perlahan, karena Anda harus membiarkannya bercampur degan air liur Anda sebelum menelannya.

MINUM AIR ES SETELAH MAKAN = KANKER!!

Air dingin akan membuat makanan yang berminyak menjadi solid (beku)!.

Hal ini akan menghambat proses pencernaan.

Ketika ‘lumpur’ tsb bereaksi dgn asam, maka akan jadi lemak bertoksin(Racun) & berbaris di dalam usus dan terserap dng sangat cepat! Sehingga menyebabkan Cancer!

Cara Terbaik adalah;

* Minum air hangat setelah makan
* Makan buah segar saat perut kosong.

(Buah + Air Liur Manusia = Obat Cancer).

Iklan

Hikmah Larangan Bernafas Ketika Minum


(( عن ثمامة بن عبد الله، قال: كان أنس بن مالك رضي الله تعالى عنه يتنفس في الإناء مرتين أو ثلاثة مرات، وزعم أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يتنفس ثلاثا )) صحيح البخاري، في الأشربة 5631

Dari Tsumamah bin Abdullah, “Dahulu Anas bin Malik radhiyallahu ta’alaa anhu pernah bernafas di dalam bejana dua kali atau tiga kali, dan dia mengira Nabi sallallahu alaihi wa sallam pernah melakukan hal itu (HR. Bukhari, No. 5631)


Dari Abu Qatadah dan bapaknya, Rasulullah bersabda, “Apabila salah seorang diantara kalian minum, maka janganlah ia bernafas di bejana (gelas), dan jika salah seorang dari kalian kencing maka janganlah ia memegang dzakar (kemaluannya) dengan tangan kanannya, jika membersihkan maka jangan membersihkan dengan tangan kanannya (HR. Bukhari 5630)

Sebagian ulama mengatakan, “Larangan bernafas di dalam bejana ketika minum sama seperti larangan ketika makan dan minum, sebab hal itu bisa menyebabkan keluarnya ludah sehingga bisa mempengaruhi kebersihan air minum tersebut. Dan keadaan ini apabila dia makan dan minum dengan orang lain. Adapun bila ia makan sendirian atau bersama keluarganya atau dengan orang yang tidak terganggu dengan caramu tersebut, maka hal itu tidak mengapa.” Aku ( Imam Ibn Hajar Al-Asqalani) berkata, “Dan yang lebih bagus adalah memberlakukan larangan hadits Nabi tersebut, sebab larangan itu bukan untuk menghormati orang yang layak dihormati ataupun untuk mendapat penghargaan dari orang lain…. Berkata Imam Al-Qurthubi, “Makna larangan itu adalah agar bejana dan air tersebut tidak tercemar dengan air ludah atau pun bau yang tidak sedap”. Fat-hul Bari, 10/94.

Demikianlah penjelasan para ulama kita. Para pakar kontemporer pun telah berusaha mengorek hikmah atas larangan tersebut. Mereka mengatakan, “Ini adalah petunjuk yang indah yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wa sallam dalam menyempurnakan akhlaq. Dan apabila makan atau minum kemudian terpercik ludah keluar dari mulut kita, maka hal itu merupakan kekurangnya sopan santun kita, dan sebab munculnya sikap meremehkan, atau penghinaan. Dan Rasulullah adalah adalah penghulunya seluruh orang-orang yang santun dan pemimpinnya seluruh para pendidik.

Bernafas adalah aktivitas menghirup dan mengeluarkan udara; menghirup udara yang bersih lagi penuh dengan oksigen ke dalam paru-paru sehingga tubuh bisa beraktivitas sebagaimana mestinya; dan menghembuskan nafas adalah udara keluar dari paru-paru yang penuh dengan gas karbon dan sedikit oksigen, serta sebagian sisa-sisa tubuh yang beterbangan di dalam tubuh dan keluar melalui kedua paru-paru dalam bentuk gas. Gas-gas ini dalam persentase yang besar ketika angin dihembuskan, padanya terdapat sejumlah penyakit, seperti pada toksin air kencing … Maka udara yang dihembuskan mengandung sisa-sisa tubuh yang berbentuk gas dengan sedikit oksigen. Dari hal ini kita mengetahui hikmah yang agung dari larangan Rasulullah; yaitu agar kita tidak bernafas ketika makan atau minum; akan tetapi yang dibenarkan adalah minum sebentar lalu diputus dengan bernafas di luar bejana, lalu minum kembali.

Rasulullah memberikan wejangan tentang awal yang bagus dalam perintahnya tentang memutus minum dengan bernafas sebentar-sebentar. Sebagimana sudah kita ketahui, bahwa seorang yang minum 1 gelas dalam satu kali minuman akan memaksa dirinya untuk menutup/menahan nafasnya hingga ia selesai minum. Yang demikian karena jalur yang dilalui oleh air dan makanan dan jalan yang dilalui oleh udara akan saling bertabrakan, sehingga tidak mungkin seseorang akan bisa makan atau minum sambil bernafas secara bersama-sama. Sehingga tidak bisa tidak, ia harus memutus salah satu dari keduanya. Dan ketika seseorang menutup/menahan nafasnya dalam waktu lama, maka udara di dalam paru-paru akan terblokir, maka ia akan menekan kedua dinding paru-paru, maka membesar dan berkuranglah kelenturannya setahap demi setahap. Dan gejala ini tidak akan terlihat dalam waktu yang singkat. Akan tetapi apabila seseorang membiasakan diri melakukan ini (minum dengan menghabiskan air dalam satu kali tenggakan) maka ia akan banyak sekali meminum air, seperti unta, dimana paru-parunya selalu terbuka…. Maka paru-paru akan menyempitkan nafasnya manakala ia sedikit minum air, maka kedua bibirnya kelu dan kaku, dan demikian juga dengan kukunya. Kemudian, kedua paru-parunya menekan jantung sehingga mengalami dis-fungsi jantung (gagal jantung), kemudian membalik ke hati, maka hati menjadi membesar (membengkak), kemudian sekujur tubuh akan menggembur. Dan Demikianlah keadaannya, sebab kedua paru-paru yang terbuka merupakan penyakit yang berbahaya, sampai para dokter pun menganggapnya lebih berbahaya daripada kanker tenggorokan.

Dan Nabi Sallallahu alaihi wassallam tidak menginginkan seorangpun dari ummatnya sampai menderita penyakit ini. Oleh karena itu, beliau menasihati ummatnya agar meminum air seteguk demi seteguk (antara dua tegukan dijeda dengan nafas), dan meminum air 1 gelas dengan 3 kali tegukan, sebab hal ini lebih memuaskan rasa dahaga dan lebih menyehatkan tubuh (Lihat Al-Haqa’iq Al-Thabiyyah fii Al-Islam, secara ringkas)
Sumber: Al-Arba’in Al-Ilmiah, Abdul Hamid Mahmud Thahmaaz

Carilah Ilmu, Jangan Pelihara Kebodohan!

TAK ADA manusia normal yang mau bodoh. Coba deh kamu tanya diri sendiri, mau gak jadi orang bodoh? Asli, gak asyik banget jadi orang bodoh itu. Islam sendiri sangat memerangi kebodohan apa pun itu bentuknya. Tak heran bila banyak ayat dan hadits yang mendorong memerangi kebodohan dengan cara menuntut ilmu. Mulai dari anjuran Rasul tercinta untuk menuntut ilmu dari buaian hingga ke liang kubur, sampai ayat Qur’an yang menyatakan bahwa Allah meninggikan derajat orang-orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat.

Islam sendiri adalah sebuah jalan hidup yang mengajak pemeluknya untuk menjadi cerdas dan pintar. Tersebutlah kisah hikmah seorang Nabi bernama Musa yang mencari Tuhannya pada sosok bulan, bintang dan matahari. Tapi karena semua itu tenggelam dan tidak abadi, maka akal Musa mengatakan tidak. Tuhan macam apa bisa tenggelam semacam itu. Begitu juga ketika ia menghancurkan berhala dan meninggalkan kapak di leher berhala yang paling besar. Ketika orang-orang bertanya padanya, dengan entengnya ia menyuruh mereka bertanya pada si berhala itu saja karena bukti sudah ada di leher si arca tersebut. Kontan orang-orang marah, bagaimana mungkin berhala yang jelas-jelas patung bisa menjawab ketika ditanya? Disinilah Sang Nabiyullah mengajak orang-orang itu untuk menggunakan akalnya.

Mahabenar Allah yang mengabadikan kisah indah tersebut untuk diambil hikmahnya bagi umat kemudian. Di dalam beriman, seyogianya memang bukan taklid buta atau sekadar ikut-ikutan saja. Harus ada proses berpikir di sana agar kokoh keimanan yang ada dalam diri, tidak mudah berubah hanya karena satu kardus mie instant saja. Proses berpikir ini melibatkan semua potensi diri untuk menjawab 3 pertanyaan besar manusia akan kehidupannya. Darimana aku berasal? Untuk apa aku hidup di dunia ini? Dan ke mana aku akan kembali setelah mati?

… Islam sendiri adalah sebuah jalan hidup yang mengajak pemeluknya untuk menjadi cerdas dan pintar…

Kita berasal dari rahim ibu, begitu seterusnya ke silsilah atas hingga nenek moyang yang akhirnya mentok ke manusia pertama yang diciptakan yaitu Adam. Manusia berakal jelas-jelas menolak teori Darwin yang menyatakan bahwa manusia berasal dari kera yang berevolusi. Bila memang evolusi kera menjadi manusia dipercaya, mengapa kera yang sekarang tetap saja menjadi kera dan tidak berubah menjadi manusia? Jadi tidak bisa tidak, kera biarlah bernenek moyang kera begitu juga manusia biarlah bernenek moyang Adam dan Hawa yang jelas-jelas manusia. Sebelum Adam, ada Sang Pencipta yang menciptakannya yaitu Allah.

Allah Maha Menciptakan maka Allah pula Yang Mahamengatur. Penemu Microsoft punya aturan main sendiri, begitu juga penemu Linux. Tak bisa keduanya saling memakai aturan main pihak lain seenaknya sendiri. Begitu juga dengan manusia. Hanya orang sombong disertai kebodohan yang akut saja yang sok membuat aturan sendiri dengan kemampuan akal yang seringkali dianggap sebagai tuhan. Tambal sulam, uji coba sana-sini telah dilakukan system hidup yang sok menjadi penguasa dunia, sosialisme dan kapitalisme. Apa yang terjadi? Duka nestapa dunia makin parah.

Kedua paham ini pun gagal menyingkap ada apa di balik kematian. Sehingga seringkali amal yang mereka kerjakan melulu dunia an sich, tanpa mengaitkannya dengan kehidupan akhirat. Bagaimana mereka bisa mengaitkan, sedangkan percaya saja tidak? Islam mempunyai aturan main yang berbeda. Jawaban atas pertanyaan besar itu saling terkait satu sama lain. Ketika kita meyakini diri ini berasal dari Allah, hidup ini pun juga dalam rangka menjalankan amanah dari-Nya, maka kehidupan setelah mati merupakan momen untuk menghitung amal diri.

… ide rusak itu bernama sekulerisme. Kebodohan sungguh bermula dari ide ini. Karena itu sungguh sayang bila ada muslim yang dengan bangga menjadi pengikut paham salah ini…

Keyakinan inilah yang akan membawa diri seorang muslim untuk selalu terjaga baik dari kemaksiatan maupun kebodohan. Tak ada pemisahan antara agama dari kehidupan. Itu adalah ide rusak bernama sekulerisme. Kebodohan sungguh bermula dari ide ini. Karena itu sungguh sayang bila ada muslim yang dengan bangga menjadi pengikut paham salah ini. Karena saya, kamu dan kita semua adalah pewaris generasi cerdas dan anti kebodohan, maka mari kita campakkan ide sekulerisme ini ke tong sampah peradaban dunia. Kita kembali pada Islam saja sebagai solusi bagi seluruh aspek kehidupan. Setuju kan? So pasti donk itu ^_^ [riafariana/voa-islam.com]

Keterpeliharaan Al-Qur’an


“Supaya Dia mengetahui bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-2 Tuhannya, sedang sebenarnya ilmu-Nya meliputi apap yang ada  pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu.”
(al-_Jinn 72: 28).

Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan hitungan-al­adad: peredaran bintang, keseimbangan alam semesta, pemben­tukan manusia, atom, kuantum mekanik, dan bahkan ayat-ayat dalam al-Qur’an sendiri. Mereka terstruktur dengan hitungan yang sistematis dan teliti.

AI-Qur’an dalam bahasa Arab berarti “pembacaan”. al-Quran mungkin kitab yang paling banyak dibaca di dunia. Per­lu diketahui, sesungguhnya kata Kitab Suci tidak ada di al-Qur’an. Yang ada adalah sebutan Kitab Mulia, Kitab Agung, Kitab Pemurah, dan lainnya. Kitab Suci dikenal karena media, terpengaruh sebutan kitab suci lainnya. Kesempurnaan dalam bahasa tidak dapat ditentang oleh para pujangga. Bahasa dan makna dipadukan. Irama, keselarasan melodi, ritmenya menghasilkan sebuah efek hipnotis yang kuat.1 Barangkali bagi orang awam, kandungan al-Qui an sulit dimengerti, karena ia tidak dimulai secara kronologis ataupun narasi-narasi sejarah seperti halnya kitab Yahudi. Ia juga tidak mendasarkan teolo­ginya dalam cerita-cerita dramatis sebagaimana epik-epik India. Tidak pula Tuhan diungkap dalam bentuk manusia sebagai­mana dalam Bibel dan Bhagavad Gita. Ia berbicara langsung soal pendidikan-sebagaimana sering dikemukakan oleh para penulis modern-berbicara mengenai membaca, mengajar, memahami dan menulis2 (al-‘Alaq 96 : 1-5). Di dalam al-Qur’an sendiri ada pemakaian kata “al-Qur’an” dalam arti bacaan, sebagaimana tersebut dalam ayat 17,18 Surat 75 al-Qiyamah:

“Sesungguhnya mengumpulkan al-Qur’an (dalam dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggungan Kami. (Karena itu), jika Kami telah membacakannya maka ikutilah ba­caannya.”

Kata pertama di dalam al-Qur’an dan Islam adalah sebuah perintah yang ditujukan kepada Nabi, yang secara linguistik menunjukkan bahwa penyusunan teks al-Qur’an berada di luar kewenangan Muhammad saw. Gaya serupa ini tetap diperta­hankan di sepanjang al-Qur’an. Ia berbicara kepada atau ten­tang Nabi dan tidak mengizinkan Nabi berbicara atas kehen­daknya sendir.3 Al-Qur’an menggambarkan dirinya sendiri sebagai sebuah kitab yang “diturunkan” Tuhan kepada Nabi; ungkapan kata “diturunkan” atau anzalna dalam berbagai bentuk digunakan lebih dari 200 kali. Secara intrinsik, ini berarti bahwa konsep dan isi al-Qur’an benar-benar diturunkan dari langit. Sebagaimana dalam beberapa ayat yang lain, Tuhan juga menurunkan besi, mizan (keadilan, keseimbangan, harmoni) dan 8 pasang binatang ternak. Al-Qur’an diturunkan secara bertahap dalam berbagai peristiwa yang memakan waktu 22 tahun 2 bulan dan 22 hari. Ia dikutip langsung dari catatan di Lauh Mahfuzh, yang berarti Kitab Utama atau bermakna “Pusat Arsip”.4

Al-Qur’an berpandangan bahwa bacaan tersebut tersusun rapi, sempurna dan tidak ada yang ketinggalan. Ia dalam peng­gambarannya sangat unik. Nabi pun kadang-kadang dikritik dan ditegur dalam beberapa peristiwa. Al-Qur’an juga selalu menyisipkan ayat-ayat tertentu, seperti “intan yang berkilauan”, dalam pelajaran metafisisnya. Ia mendesak pembaca agar menggunakan kemampuan intelektualnya, mengenali isyarat ­isyarat ilmiah berupa “intan yang berkilauan”, tanda-tanda kebesaran Pencipta melalui alam semesta, sumber Metafisis Tertinggi. Muslim modern mengatakan ada sekitar 900 ayat yang memuat tanda-tanda ini, dari total 6.236 ayat. Hanya 100 ayat yang berbicara persoalan peribadatan, dan puluhan ayat yang membahas masalah-masalah pribadi, hukum perdata, hukum pidana, peradilan dan kesaksian.5 Al-Qur’an berbeda cara pe­nyajiannya, bisa saja membahas masalah keimanan, moral, ritu­al, hukum, sejarah, alam, antisipasi masa mendatang, secara sekaligus dalam satu surat. Ini memberikan daya persuasi yang lebih besar, karena semua berlandaskan keimanan kepada Tuhan Yang Esa dan Hari Akhir. Jumlah surat dalam al-Qur’an ada 114, nama-nama tiap surat, batas-batas tiap surat dan susunan ayat-ayatnya merupakan ketentuan yang ditetapkan dan diajarkan oleh Nabi sendiri.

Sejarah Ringkas Pemeliharaan al-Qur’an

Pada awal Islam, bangsa Arab adalah bangsa yang buta huruf, hanya sedikit yang pandai menulis dan membaca. Bahkan beberapa di antaranya merasa aib bila diketahui pandai menulis. Karena, orang yang terpandang pada saat itu adalah orang yang sanggup menghafal, bersyair, dan berpidato. Waktu itu belum ada “kitab”. Kalaupun ada hanyalah sepotong batu yang licin dan tipis, kulit binatang, atau pelepah korma yang ditulis. Termasuk kutub, jamak kitab, yang dikirim oleh Nabi kepada raja-raja di sekitar Arab, sebagai seruan untuk masuk Islam.

Setiap kali turun ayat, Nabi menginstruksikan kepada para sahabat untuk menghafalnya dan menuliskannya di atas batu, kulit binatang dan pelepah korma. Hanya ayat-ayat al-Qur’an yang boleh ditulis. Selain ayat-ayat al-Qur’ an, bahkan termasuk Hadis dan ajaran-ajaran Nabi yang didengar oleh para sahabat, di larang untuk dituliskan, agar antara isi al-Qur’an dengan yang lainnya tidak tercampur.

Setiap tahun, malaikat Jibril, utusan Tuhan mengulang (repetisi) membaca ayat-ayat al-Qur’an yang telah diturunkan sebelumnya di hadapan Nabi. Pada tahun Muhammad saw wafat, yaitu tahun 632 M, ayat-ayat al-Qur’ an dibacakan dua kali dalam setahun.6 Ini menarik sekali, karena seolah-olah akhir tugas dan kehidupan Nabi di dunia ini telah diantisipasi akan selesai.

Pada masa khalifah pertama, Abu Bakar, banyak terjadi peperangan melawan orang-orang yang murtad dan para nabi palsu. Di antara mereka yang gugur dalam peperangan banyak penghafal ayat-ayat al-Qur’an. Umar bin Khaththab mengu­sulkan untuk mengumpulkan para penghafal al-Qur’an, disu­ruh membacakan al-Qur’an, menjadikan satu, meneliti dan menulis ulang. Kumpulan itu yang ditulis oleh Zaid bin Tsabit, mushaf, berupa lembaran-lembaran yang diikat menjadi satu, disusun berdasarkan urutan ayat dan surat seperti yang telah ditetapkan oleh Nabi sebelum wafat. Sedangkan pada masa Utsman bin Affan, tentara Muslim telah sampai ke Armenia, Azerbajan di sebelah Timur dan Tripoli di sebelah barat. Kaum Muslim terpencar di seluruh pelosok negeri, ada yang tinggal di Mesir, Syria, Irak, Persia dan Afrika. Naskah beredar di mana­mana, tetapi urutan surat dan cara membacanya beragam, se­suai dialek di mana mereka tinggal. Hal ini menjadikan perti­kaian antarkaum Muslim sehingga menjadikan kekhawatiran pemerintahan Utsman. Maka kemudian Utsman membentuk panitia untuk membukukan ayat-ayat al-Qur’an dengan me­rujuk pada dialek suku Quraisy, sebab ayat al-Qur’an diturun­kan dengan dialek mereka, sesuai dengan suku Muhammad saw. Buku tersebut diberi nama al-Mushaf, ditulis lima kopi dan dikirimkan ke empat tempat: Mekkah, Syria, Bashrah, dan Ku­fah. Satu kopi disimpan di Medinah sebagai arsip dan disebut Mushaf al-Imam.

Walaupun telah disatukan dan diseragamkan, namun tetap cukup banyak al-Qur’an di Afrika dengan dialek berbeda, ter­masuk jumlah ayat yang “berbeda” karena perbedaan mem­baca dalam pergantian nafas (6.666 ayat), tetapi isinya tetap sama. Awalnya, pada zaman Nabi, al-Qur’an memakai dialek Quraisy, tetapi kemudian berkembang menjadi tujuh dialek non-Quraisy. Pada mulanya, ini dimaksudkan agar suku-suku lain lebih mengerti. Ada juga aliran tersendiri (kelompok kecill, pimpinan Dr. Rashad Khalifa, kelahiran Mesir, seorang ahli biokimia dan matematika, yang mempromosikan jumlah ayat 6.234, berbeda 2 ayat dengan naskah Ustman, 6.236 ayat.7 Sedangkan mayoritas Muslim, baik Sunni maupun Syi ah tetap berpegang teguh pada naskah awal yang dikumpulkan semasa Khalifah Ustman, yaitu dialek Quraisy, hingga kini. Perbedaan kecil ini, menjadi sasaran kritik para Orientalis, bahwa al-Qur’ an tidak asli lagi, karena telah ada campur tangan manusia dalam transmisinya. Walaupun demikian, sebagian di antara mereka, seperti Gibb, Kenneth Cragg, John Burton, dan Schwally dalam bukunya Mohammedanism, The Collection of the Qur’an , The Mind of the Qu‘ran, dan Geschichte des Qorans, mengakui bahwa “sejauh pengetahuan kita, kita bisa yakin bahwa teks wahyu telah di­transmisikan sebagaimana apa yang telah diberikan kepada Nabi”.8

Mushaf  Utsmani Disimpan di Mana?

Banyak pertanyaan, di mana copy yang diberikan oleh Kha­lifah Utsman disimpan? Apakah masih ada? Menurut penje­lasan The Institute of Islamic Information and Education of America,9 naskah tadi disimpan di Museum Tashkent di Uz­bekistan, Asia Tengah. Sedangkan hasil copy fax ada di Perpus­takaan Universitas Columbia di Amerika Serikat.10 Keterangan lebih lanjut menjelaskan bahwa copy tersebut sama dengan apa yang dimiliki pada zaman Nabi. Duplikat copy yang dikirimkan ke Syria pada masa Utsman juga masih ada di Topkapi Museum Istambul, duplikat ini dibuat sebelum terjadi kebakaran pada tahun 1892 yang menghancurkan mesjid Jami, di mana mushaf tersebut berada. Naskah yang lebih tua bisa ditemukan di Dar al-Kutub, Kesultanan Mesir. Sangat menarik, terdapat naskah yang disimpan di Perpustakaan Kongres di Washington, Ches­ter Beatty Museum di Dublin (Irlandia) dan Museum di Lon­don-isinya tidak berbeda dengan apa yang terdapat di Mesir, Uzbekistan dan Syria. Sebelumnya juga terdapat 42.000 koleksi naskah kuno disimpan Institute for Koranforshung, University of Munich di Jerman. Namun, ketika Perang Dunia II, koleksi ini hancur karena dibom.11 Sejauh ini, berkat upaya para sahabat Nabi dan atas pertolongan Tuhan Yang Maha Esa, isi al-Qur’an, sejak zaman Nabi hingga sekarang tetap sama. Namun demi­kian, pertanyaan lainnya muncul. Jika ini semua otentik sesuai dengan aslinya, bagaimana kita yakin bahwa al-Qur’an berasal dari “Sumber Metafisis Tertinggi”?12 Sebagian besar kaum Mus­lim sangat yakin bahwa al-Qur’an adalah asli dari Tuhan, karena al-Qur’an sendiri yang mengatakan demikian; misalnya saja, Surat an-Nisa’ (4:82); al-An’am (6:19); (6:92); an-Naml (27:6); al-Jatsiyah (45:2).13 Sebagian Muslim lainnya baru percaya setelah membaca dan memahami isinya dengan baik, berpikiran jernih, dan mau membuka hati dengan hal-hal yang baru. Tetapi dapat dipahami pula, karena “sumbernya dari dalam”, bagi urang luar yang skeptis, pendapat apa saja dimungkinkan. Oleh karena itu, bagi orang luar, bukan kalangan Muslim atau siapa sajn, pilihannya adalah salah satu dari lima kemungkinan yang “mengarang al-Qur’an”.

Pertama, Nabi Muhammad saw.
Kedua
, para pujangga-ilmuwan Arab dan kumpulan cerita dari berbagai sumber.
Ketiga
, merupakan jiplakan dari kitab suci Injil dan Taurat.
Keemyat
, buatan makhluk asing.
Dan kelima, dari Tuhan.

Al-Qur’ an berpandangan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama. Ia mengatakan bahwa percaya atau tidaknya seseorang terhadap isi al-Qur’an, semata-mata karena hidayah Allah. Hidayah diberikan bagi yang mau berpikir jernih dan berprasangka baik.

Sebagian Muslim makin percaya karena faktor-faktor eksternal, bukan hanya karena pernyataan al-Qur’an saja. Mereka berpikir begini.

Pertarma, Muhammad saw terkenal karena kujujurannya, dapat dipercaya, dan bukan orang yang pandai membaca dan menulis. Di lain pihak, gaya bahasa al-Qur’an sangat berlainan dengan gaya bahasa Nabi ketika bertutur. Al-Qur’an selalu memakai gaya yang unik, dimulai dengan “Katakanlah”, “ingatkah”, “Tuhan berkata”, “Mereka bertanya”, dan sebagainya.

Kedua, ada puluhan surat dan ayat yang dimulai dengan huruf-huruf Arab, yang pada awalnya tidak diketahui maknanya. Huruf sisipan atau fawatih. Huruf-huruf ini tidak ada perlunya jika “makhluk biasa” yang membuat, karena tidak dimengerti oleh pembacanya hingga berabad-abad lamanya, membuat bingung.

Ketiga, sesuatu yang menarik lainnya, bahwa nama Muhammad hanya empat kali disebut dalam al­Qur an. Nama Adam as dan Isa as jauh lebih banyak disebut. Mereka disebut oleh al-Qur’an masing-masing 25 kali. Bahkan nama Musa as paling banyak disebut.

Keempat, cerita atau ung­kapan sejarah serupa dengan cerita dalam kitab suci lainnya, namun sangat berbeda dalam detail dan maknanya. Beberapa kisah masa lalu, bahkan tidak ditemukan dalam kitab Yahudi atau Bibel. Seperti kisah bangsa Tsamud, Ad, kota Iram, dialog antara Nuh as dengan puteranya sebelum banjir terjadi, dan “percakapan semut yang didengar Sulaiman as”.

Kelima, seruan al-Qur’an bukan saja ditujukan kepada semua manusia (di bumi dan langit–planet dan alam lainnya), tetapi juga golongan jin (beserta seluruh rasnya, seperti setan, iblis, ifrit, dan makhluk asing yang belum diketahui manusia). Ayat-ayat ini tidak ada perlunya bila “makhluk biasa” yang membuat, apa manfaat­nya?

Keenam, rincian tentang malaikat, jin, penciptaan (banyak) alam semesta dan (banyak) bumi, fenomena ilmiah, di mana pengetahuan manusia belum atau baru saja mengetahui.14

Ketujuh, struktur kodetifikasi yang ditemukan dalam al-Qur’an, di mana ia mengatakan untuk menambah keimanan bagi orang yang beriman dan membuat tidak ragu bagi pembaca Kitab ini (al-Muddatstsir 74 : 30).

Beberapa faktor eksternal tersebut menyebabkan sebagian kaum Muslim makin percaya bahwa al-Qur’an kecil sekali ke­mungkinannya dibuat oleh makhluk biasa, baik manusia mau­pun jin. Kita juga harus ingat, kaum Muslim lainnya, yang bukan Islam karena “dilahirkan” – Islam karena “pindah agama atau mendapatkan agama”, mereka mempunyai alasan yang Iebih spesifik.

Mushaf Utsmani adalah satu-satunya kitab, di mana enkripsi dan kodetifikasi bilangan prima ditemukan secara terstruktur, komprehensif, mulai dari yang paling sederhana hingga yang rumit.


TABEL
1.1.

DAFTAR SURAT DAN  JUMLAH AYAT AL-QUR’AN,

MUSHAF UTSMANI

NAMA SURAT No.
su

rat
Ayat NAMA SURAT No.
su

rat
Ayat
Al Fatihah (Pembukaan) 1 7 AI-Mujadilah (Wanita yg Mengajukan Gugatan). 58 22
Al-Baqarah (Sapi Betina). 2 286 AI-Hasyr (Pengusiran). 59 29
Al-Imran (Keluarga Imran). 3 200 AI-Mumtahanah (Perempuan yg Diuji). 60 13
An-Nisa’ (Wanita). 4 176 Ash-Shaff (Barisan). 6l 14
Al Maidah (Hidangan). 5 120 Al Juma’ah (Hari Jum’at} 62 11
Al-An’am (Binatarg Temak). 6 165 AI-Munafiqun (Orang-orang Munafik). 63 11
AI-A’raf (Tempat Tertinggi). 7 206 At-Taghuibun (Hari Ditampakkan Kesalanan-2). 64 18
Al-Anfal (Rampasan Perang). 8 75 Al-Thalaq (Talak). 65 12
At Taubah (Pangampunan). 9 129 AI-Tahrim (Mengharamkan). 66 12
Yunus (Yunus) 10 109 AI-Mulk (Kerajaan). 67 30
Hud (Hud) 11 123 AI-Qalam (Pena). 68 52
Yusuf (Yusuf) 12 111 Al Haqqah (Hari Kiamat) 69 52
Ar-Ra’d (guruh) 13 43 AI-Ma’arij (Tampat-tampat Naik). 70 44
Ibhrahim 74 52 Nuh (Nuh). 71 28
Al-Hijr 15 99 Al-Jin (Jin). 72 28
An-Nahl (Lebah). 16 128 AI-Muzzanmmil (Orang yang Berselimut). 73 20
Al-Isra’ (Memperjalankan di Malam Hari) 17 111 Al-Muddatstsir (Orang yang Berkemul). 74 56
AI-Kahfi (Gua). 18 110 AI-Qiyamah (Hari Kiamat). 75 40
Maryam 19 98 AI-Insan (Manusia). 76 31
Thaha 20 135 AI-Mursalat (Malaikat yang Diutus). 77 50
Al-Anbiya’ (Nabi-nabi) 21 112 An-Naba’ (Berita Besar). 78 40
AI-Hajj (Haji). 22 78 An-Nazi’at (Malaikat-malaikat yang Mencabut). 79 46
AI-Mu’minun (Orang-orang yg Beriman) 23 118 ‘Abasa (la Bermuka Masam). 80 42
An-Nur (Cahaya). 24 64 At-Takwir (Menggulung). 81 29
Al-Furqan (Pembeda). 25 77 AI-lnfithar (Terbelah). 82 19
Asy-Syu’ara’ (Para Penyair). 26 227 AI-Muthaffifin (Orang-orang yang Curang). 83 36
An-Naml (Semut). 27 93 Al-Insyiqaq (Terbelah). 84 25
AI-Qashash (Cerita-cerita). 28 88 AI-Buruj (Gugusan Bintang). 85 22
AI-‘Ankabut (Laba-laba). 29 69 Ath-Thariq (Yang Datang di Malam Hari). 86 17
Ar-Rum (Bangsa Romawi) 30 60 AI-A’Ia (Yang Paling Tinggi) 87 19
Luqman 31 34 A!-Ghasyiyah (Hari Pembalasan) 88 26
As-Sajdah (Sujud). 32 30 AI-Fajr (Fajar) 89 30
Al-Ahzab (Golongan yang Bersekutu). 33 73 AI-Balad (Negeri) 90 20
Saba’ (Kaum Saba). 34 54 Asy-Syams (Matahari) 91 15
Fathir (Pencipta). 35 45 Al-Lail (Malam) 92 21
Ya Sin 36 83 Adh-Dhuha (Waktu Matahari Sepenggalah Naik). 93 11
Ash-Shaffat (Yang Bersaf-saf). 37 182 Alam Nasyrah (Melapangkan) 94 8
Shad 38 88 At-Tin (Buah Tin) 95 8
Az-Zumar (Rombongan­rombongan). 39 75 Al-‘Alaq (Segumpal Darah) 96 19
AI-Mu’min (Orang yang Beriman). 40 85 Al-Qadr (Kemuliaan) 97 5
Fushshilat (Yang Dijelaskan). 41 54 Al-Bayyinah (Bukti) 98 8
Asy-Syura (Musyawarah). 42 53 Az-Zalzalah (Kegoncangan) 99 8
Az Zukhruf (Perhiasan). 43 89 Al- ‘Adiyat (Kuda Perang yang Berlari Kencang) 100 11
Ad-Dukhan (Kabut). 44 59 AI-Qari’ah (Hari Kiamat) 101 11
A!-Jatsiyah (Yang Berlutut). 45 37 At-Takatsur (Bermegah – megahan) 102 8
Al Ahqaaf (Bukit-bukit pasir) 46 35 Al ‘Ashr (Masa) 103 3
Muhammad 47 38 Al Humazah (Pengumpat) 104 9
AI-Fath (Kemenangan). 48 29 Al-Fil (Gajah) 105 5
AI-Hujurat (Kamar-kamar). 49 18 Quraisy (Suku Quraisy) 106 4
Qaf (Qaf). 50 45 AI-Ma’un (Barang-barang yang Berguna) 107 7
Adz-Dzariyat (Angin yg Menerbangkan) 51 60 AI-Kautsar (Nikmat yang Banyak) 108 3
Ath-Thur (Bukit). 52 49 AI-Kafirun (Orang-orang Kafir) 109 6
An-Najm (Bintang). 53 62 An-Nashr (Pertolongan) 110 3
AI-Qamar (Bulan). 54 55 Al-Lahab (Gejolak Api) 111 5
Ar-Rahmin (Yang Maha Pemurah) 55 78 AI-Ikhlas (Memurnikan Keesaan Allah) 112 4
AI-Waqi’ah (Hari Kiamat) 56 96 AI-Falaq (Waktu Subuh) 113 5
AI-Hadid (Besi). 57 29 An-Nas (Manusia) 114 6
Jumlah 1.653 5.104 4.902 1.132

Total jumlah ayat: 5.104 + 1.132 = 6. 236
Total jumlah nomor surat: 1.653 + 4.902 = 6.555

Surat 1- 57 Surat 58 – 114

Terlihat dari Tabel 1.1 bahwa jumlah ayat al-Qur’an adalah 6.236. Total jumlah nomor surat dari 1 sampai dengan 114:1 + 2 + 3 + …. + 114 = 6.555. Dengan demikian jumlah 6.236 ayat dan angka 6.555 jumlah nomor surat menjadi dasar enkripsi al­Qur’an selanjutnya

1.Huston Smith, Islam, p’ustaka Sufi, Maret 2002, hal. 37.

2.“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. yang mengajar (manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (al-Alaq 96 : 15).

3.Muhammad Abdul Halim, Memahami Al-Qur’an, Marja, April 2002, hal. 15.
4. Disebut “pusat arsip”, karena, sebagaimana keterangan al-Qur’an, semua kejadian di bumi dan langit (kosmos) tercatat rapi di Lauh Mahfuzh. Bahkan beberapa ayat memberikan pengertian bahwa catatan tersebut telah ada sebelum kejadian itu berlangsung. Oleh karena itu, mengapa berbagai peristiwa yang dikisahkan al-Qur’an selalu teliti dan akurat. Termasuk, menurut pengetahuan manusia, antisipasi ke depan. Selain al-Qur’an, diberitakan juga kitab-kitab sebelumnya dikutip dari “Kitab Utama” ini, termasuk kitab Zabur yang diberikan kepada Daud as.

5.Muhammad Abdul Halim, Memahami AI-Qur’an, Marja, April 2002, hal. 19

6 Baea Khadim al-Haramain asy-Syarifain, AI-Qur ‘an dan Terjemahannya.

7.Berbeda 2 ayat di Surat at-Taubah. Mereka mengatakan 127 ayat, tidak sama dengan al-Qur’an pada umumnya,129 ayat. Namun demikian, Dr. Rashad Khalifa, berjasa karena berani memulai studi matematika dalam al-Qur’an. Sebagian besar karyanya diakui oleh mufasir lainnya, termasuk, misalnya, Quraish Shihab sebagaimana dalam bukunya Mukjizat AI-Qur’an.

8.The Institute of Islamic Information and Education, USA. The Authenticity of The Qur’an, http://www.iiie.net/Articles/AuthenticQuran.html diterima tanggal 13 Desember 2003.

9.Baca juga Yusuf Ibrahim al-Nur, Ma’ al-Masaahif, Dubai: Dar al-Manar, 1st ed.,1993, hal. 117; dan Isma’il Makhdum, Tarikh al-Mushnfal-Uthmani fi Tashqand, Tashkent: AI-ldara al-Diniya, 1971, hal. 22.

10.Baca juga The Muslim Wor1d, 1940,, Vol. 30, hanl. 357-358.

11.Baca lebih lanjut Dr. Maurice Bucaille, The Bible, The Qur’an and Scienre, Indianapolis, American Trust Publications, 1983, atau Fredrick Denny, Islam, NY: Harper & Row, 1987.

12.Baca Malik Ben Nabi, Les phenomenons du coran, yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesa.

13.Misalnya, an-Nisa’ (4:82): “Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an? Kalau kiranya al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentengan yang banyak didalamnya.”
14.Lebih lanjut baca, misalnya, buku-buku karya Malik Ben Nabi (Aljazair-­Prancis), Dr. Maurice Bucaille (Prancis), Jaques Jomier (Prancis), Keith L. Moore (USA-Canada). Gary Miller (USA), Harun Yahya (Turki-UK), Dr. Peter Plichta (Jerman), dan M. Asadi (USA)

DIKUTIP Dari buku harun yahya

FENOMENA GUNUNG

gunung meletus

. Namanya adalah Profesor Siaveda, salah satu anggota ahli geologi dari Jepang. Dia juga salah satu ilmuwan terkenal dunia. Pemikiran Profesor Siaveda dipenuhinya dengan beberapa distorsi dan kecurigaan tentang semua agama. Memang benar apa yang dia katakan yang berkenaan dengan semua agama, kecuali Islam, sebab Islam berbeda dengan semua agama yang ia bicarakan.

Ketika kami bertemu dengannya, dia berkata kepada kami: “Anda belajar agama yang semua ada di dunia seharusnya Anda menjaga dengan menutup mulut Anda selamanya.” Kami menjawab: “Tetapi mengapa, Profesor, mengapa?” Dia menjawab: “Sebab, jika Anda berbicara, Anda menyebabkan perang yang berkobar antara keseluruhan manusia di dunia”. Kami bertanya kepadanya: “Mengapa persekutuan NATO dan Pakta Warsawa mengumpulkan gudang senjata nuklir secara besar-besaran dan senjata nuklir di angkasa, laut, darat, dan bawah tanah. Mengapa hal ini? Apakah hal ini untuk alasan agama?” Dia terdiam. Kemudian kami berkata kepadanya: “Bagaimananapun kami tahu bahwa sikap Anda yang berhubungan dengan semua agama, namun karena Anda tidak tahu banyak tentang Islam, Anda mungkin mendengar apa yang kami katakan.” Jadi, kami menanyakannya banyak pertanyaan tentang keahliannya dan juga memberikan informasi kepadanya tentang ayat-ayat al-Quran dari Hadis Nabi yang menyebutkan fenomena yang ia bicarakan.

Satu dari pertanyaan ini adalah tentang gunung yang benar-benar mengakar di bumi. Dia menjawab: “Perbedaan pokok antara gunung yang ada di benua dan gunung yang ada di samudera terletak pada bahannya. Gunung yang ada di benua pada dasarnya terbuat dari endapan, sedangkan gunung di samudera terbuat dari batu vulkanik. Gunung di benua terbentuk dari kekuatan tekanan , sedangkan gunung di samudera terbentuk dari kekuatan perpanjangan. Tetapi, di antara kedua gunung itu memiliki persamaan bahwa mereka mengakar untuk mendukung pegunungan. Dalam hal ini, gunung di benua, ringan rendahnya berat jenis bahan dari gunung secara luas turun ke bumi sebagai akar. Sedangkan gunung di samudera juga ada bahan ringan yang menyokong gunung sebagai akar, tetapi bahan-bahan gunung disamudera ini tidak ringan sebab komposisinya ringan, tetapi panas, oleh karena itu agak meluas Tetapi dari sudut pandang berat jenis, mereka mengerjakan hal yang sama dalam menyokong pegunungan. Oleh karena itu, fungsi akar adalah penyokong gunung sesuai dengan hukum Archimedes. “

Profesor Siaveda menggambarkan semua bentuk gunung, baikyang di darat maupun di laut, sebagaimana yang menjadi bentuk iris. Dapatkah seseorang pada masa Nabi Muhammad SAW mengetahui kondisi gunung ini? Dapatkah seseorang membayangkan bongkahan gunung yang dia lihat sebelumnya benar-benar memperluas ke dalam bumi dan memiliki akar sebagaimana yang dipercayai para ilmuwan. Banyak buku geografi yang membicarakan gunung, hanya menggambarkan bagian permukaan bumi. Hal inilah yang tidak ditu­lis oleh ahli geologi, akan tetapi ilmu pengetahuan modern memberikan informasi kepada kita tentang gunung dan Allah berfirman,

“Dan gunung gunung sebagai pasak” (QS an­Naba’. 7)

Kami bertanya kepada Profesor Siaveda: “Apakah gunung-gunung itu memiliki fungsi dalam membangun kerak bumi?” Dia mengatakan bahwa hal ini belum ditemukan dan dibangun oleh para ilmuwan. Dalam pandangan jawaban, kami menyelidiki dan menanyakan tentang hal ini dan kami mendapati beberapa ahli geologi memberikan jawaban yang sama, kecuali hanya sedikit. Di antara yang sedikit itu sebagai penulis buku yang berjudul “Bumi”. Buku ini dijadikan sebagai dasar referensi di beberapa universitas di seluruh dunia. Salah satu penulis buku ini bernama Frank Press. Sekarang ini dia Presiden Akademi Ilmu Pengetahuan di Amerika Serikat. Sebelum itu, dia penasihat ilmu pengetahuan bekas Presiden Amerika Serikat, Jimmy Carter.

Apa yang dikatakan dalam bukunya, ia menggambarkan gunung menyerupai bentuk iris di mana gunung itu bagian kecil dari semua yang memiliki akar dan mengakar kuat di dasar tanah. Prof Press menulis fungsi gunung dan menyatakan bahwa mereka memainkan peran penting dalam menstabilkan kerak bumi. Inilah kenyataan mengapa al-Quran menggambarkan gunung pada 14 abad yang lalu.

Allah berfirman:

“Dan gunung gunung dipancangkannya dengan teguh. ” (QS an-Naazi’at : 32)

“Dan Dia menancapkan gunung gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu. ” (QS an-Nahl : 15)

Namun, siapa yang telah memberi tahu Nabi Muhammad SAW tentang hal ini? Kami menanyakan kepada Profesor Siaveda pertanyaan berikut: “Apa pendapat Anda setelah melihat al-Quran dan Sunnah yang berkaitan dengan rahasia alam semesta yang baru saja ditemukan para ilmuwan akhir-akhir ini?” Dia menjawab:

“Saya pikir, hal ini terlihat sangat misterius bagi saya, hampir tidak dapat dipercaya. Saya sungguh berpikir apa yang Anda katakan itu benar. Buku itu sungguh luar biasa, saya setuju. “

Ya, apa yang dapat dikatakan para ilmuwan? Mereka tidak dapat menghubungkan pengetahuan yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW dan yang tertulis di dalam al-Quran untuk seluruh umat manusia atau ahli ilmiah pada masa lalu, sebab semua ilmuwan tidak menyadari akan rahasia semua ini. Terlebih lagi, semua manusia tidak dapat menjelaskan tetapi untuk menghubungkan pengetahuan itu untuk beberapa kekuatan bumi. Ya, inilah petunjuk dari Allah yang diturunkan kepada utusan-Nya, Nabi Muhammad SAW yang buta huruf yang dibuat Allah sebagai tanda yang abadi untuk mengantarkan manusia sampai akhir zaman.

Dikutip dari buku harun yahya “ bukti kebenaran al qur’an”

RAHASIA DI KEDALAMAN LAUT

DI BAWAH LAUT

Kami menghadirkan kepada Anda profesor Dorja Rao. Dia seorang ahli dalam bidang geologi laut dan sekarang ini mengajar di Universitas King Abdul Aziz, Jeddah. Kami bertemu dengannya dan menjelaskan beberapa ayat al-Quran yang berisi tanda-tanda ilmiah di dalam al-Quran. Dia heran dengan apa yang dia lihat dan dengar. Dia telah membaca terjemahan al-Quran dan ayat-ayat al-Quran dalam buku-buku tertentu. Di antara ayat-ayat ini, dia mendiskusikan apa yang telah difirmankan Allah di dalam al-Quran sebagai berikut:

“Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih bertindih apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tidaklah dia mernpunyai cahaya sedikitpun. (QS an-Nur: 40)

Profesor Rao menegaskan bahwa ilmuwan sekarang mengetahui kegelapan itu dengan peralatan seperti kapal selam yang memungkinkan mereka untuk menyelami kedalaman samudera, di mana manusia tidak sanggup menyelam tanpa bantuan untuk kedalaman lebih dari 20 sampai 30 meter. Itulah orang menyelam untuk mutiara di air dangkal dan tidak dapat menyelam lebih dari kedalaman ini. Manusia tidak dapat menyelamatkan nyawa pada kedalaman samudera yang gelap, seperti pada kedalaman 200 meter. Tetapi, ayat ini membicarakan tentang fenomena yang ditemukan pada samudera yang sangat dalam. Oleh karena itu, pernyataan Allah tentang kegelapan di dalam samudera luas yang sangat dalam tidak mengacu hanya untuk laut sebab tidak semua laut dapat digambarkan sebagaimana memiliki lapisan kegelapan yang terkumpul yang berlapis-lapis. Bagian lapisan kegelapan ini di laut yang dalam memiliki dua sebab sebagai hasil dari menghilangkannya warna yang berturut-turut satu lapisan setelah yang lain. Sinar cahaya itu tersusun dari tujuh warna dan ketika sinar tersebut mengenai air, kemudian dipantulkan menjadi tujuh warna.

Kita bisa melihat sinar cahaya yang akan melalui kedalaman samudera. Lapisan paling atas diserap warna merah pada kedalaman sepuluh meter pertama. Jika seorang penyelam akan menyelam pada keda­laman tiga puluh meter dan terluka di sana, dia tidak akan bisa melihat darahnya, sebab warna merah tidak sampai pada kedalaman ini. Pada cara yang sama, sebagaimana yang kita ketahui, lapisan oranye diserap. Kemudian pada kedalaman lima puluh meter, lapisan kuning diserap. Pada kedalaman lebih dari dua ratus meter, lapisan biru diserap dan seterusnya. Dari sini kita mendapatkan bahwa samudera menjadi semakin lama semakin gelap, bahwa kegelapan terjadi pada lapisan yang terang. Sebagai alasan yang kedua, kegelapan mula-mula hasil dari pembatas di mana cahaya itu tersembunyi.

Lapisan cahaya, yang kita lihat di sini, mula-mula dari matahari dan diserap oleh awan, yang berubah menghamburkan beberapa lapisan cahaya, karena itu menghasilkan lapisan kegelapan di bawah awan. Inilah lapisan kegelapan pertama. Kemudian ketika cahaya mencapai permukaan samudera, cahaya itu akan dipantulkan oleh gelombang permukaan, dengan demikian memberikan penampakan berkilauan. Inilah alasan bahwa ketika ada gelombang, intensitas bayangan ini tergantung pada sudut gelombang itu. Oleh karena itu, gelombang yang memantulkan cahaya dan karena kegelapan itu. Cahaya.yang tidak dipantulkan menembus kedalaman samudera karena itu kami membagi samudera menjadi dua lapisan, bagian permukaan dangkal dan bagian dalam. Permukaan samudera yang dangkal digolongkan dengan cahaya dan kehangatan. Sedangkan samudera yang dalam digolongkan dengan kegelapan.

Dua bagian samudera ini memiliki sifat yang berbeda. Dan permukaan lebih jauh terpisah dari bagian dalam oleh gelombang. Gelombang internal baru ditemukan pada tahun 1900. Akhir-akhir ini, ilmuwan menemukan ada gelombang internal yang terjadi pada ketebalan permukaan antarlapisan dari berat jenis yang berbeda. Gelombang internal memiliki perilaku seperti gelombang di permukaan. Mereka juga dapat meretakkan seperti gelombang permukaan. Gelombang internal tidak dapat dilihat manusia, tetapi dapat dideteksi dengan mempelajari suhu atau kadar garam pada tempat yang diberikan.

Di bawah gelombang ini, yang terbagi menjadi dua bagian samudera, kegelapan dimulai. Pada kedalaman ini, ikan tidak dapat melihat. Mereka hanya memiliki sumber cahaya dari tubuh mereka. Kegelapan ini yang berlapis dan bertingkat satu dengan yang lain telah dijelaskan dalam al-Quran.

Dengan kata lain, masih ada beberapa gelombang bertingkat selanjutnya ditemukan pada permukaan samudera. Al-Quran kemudian juga menjelaskan kegelapan itu. Kegelapan itu disebabkan karena pembatas yang dijelaskan pada tambahan disebabkan karena perubahan penyerapan warna pada tingkatan yang berbeda lapisan satu dengan yang lain. Di sini kegelapan yang total, kapal selam harus membawa sumber cahaya mereka, sehingga siapa yang menjelaskan Nabi Muhammad SAW mengenai hal ini?

Kami menunjukkan beberapa ayat kepada Profesor Rao yang berkaitan dengan keahliannya dan kami bertanya: “Apa yang Anda pikirkan tentang keberadaan informasi ilmiah di dalam al-Quran? Bagaimana Nabi Muhammad SAW bisa mengetahui fakta ini pada 14 abad yang lalu?”

Profesor Rao menjawab: “Sulit membayangkan bahwa tipe pengetahuan ini telah ada pada 1400 tahun yang lalu. Mungkin ada beberapa hal yang mereka memiliki ide sederhana tetapi untuk menggambarkan hal itu secara detail sangat susah. Sehingga, hal ini tidak didefinisikan ilmu pengetahuan manusia secara sederhana. Manusia normal tidak dapat menjelaskan fenomena itu secara detail. Dengan demikian, saya pikir, informasi itu pasti berasal dari sumber supranatural. “

Ya, sumber seperti ilmu pengetahuan itu pasti lebih dari tingkatan manusia. Sebagaimana yang dikatakan Profesor Rao, tidak datang dari alam, namun hal ini jauh melebihi alam dan jauh dari kemampuan manusia. Apa yang dicoba Profesor Rao untuk mengatakan bahwa sesuatu itu tidak dapat dilengkapi dengan kemajuan, untuk itu kebenaran ini ditunjukkan dengan firman Allah, satu-satunya yang mengetahui alam semesta dan rahasianya. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan di dalam al-Quran:

“Katakanlah: al-Quran itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. . . . ” (QS al-Furqan: 6)

Inilah dari Allah. Dengan demikian, kesaksian ilmuwan itu dipusatkan menjadi satu setelah membuktikan petunjuk ini dan cahaya yang berisi kebenaran yang tidak dapat disangkal lagi, untuk itulah al-Quran adalah sumber petunjuk sampai hari akhir.

Dikutip dari buku harun yahya  “ bukti kebenaran Al-Qur’an”

FENOMENA AWAN DALAM AL-QUR’AN

AWAN

Para ilmuwan telah mempelajari tentang tipe-tipe awan dan meyakini bahwa awan hujan terbentuk dari sistem tertentu dan berikatan dengan tipe-dpe angin dan awan tertentu. Salah satu jenis awan hujan adalah awan cumulonimbus bercampur dengan hujan angin ribut disertai petir dan gemuruh. Para ahli meteorologi telah mempelajari bagaimana awan cumulonimbus terbentuk dan bagaimana awan itu menghasilkan hujan, hujan es, dan halilintar/kilat. Para ahli meteorologi juga menemukan langkah-langkah yang dilewati awan cumulonimbus dalam menghasilkan hujan sebagai berikut:

1. Awan didorong angin

Awan cumulonimbus mulai terbentuk ketika angin mendorong sebagian kecil awan cumulus ke sebuah area di mana awan-awan ini berkumpul.

2.Penggabungan

Awan kecil bergabung bersama membentuk awan besar.

3. Penumpukan

Ketika awan-awan kecil bergabung, udara yang bergerak ke atas di dalam awan yang besar meningkat. Udara yang bergerak ke atas dekat dengan pusat awan lebih kuat dibanding dengan yang dekat dengan tepi. Udara yang bergerak ke atas ini menyebabkan badan awan tumbuh secara vertikal, sehingga awan menunggu di udara. Pertumbuhan vertikal ini menyebabkan badan awan menjadi bagian yang lebih dingin di atmos­fer di mana tetesan air dan hujan es merumuskan dan mulai berkembang melebar. Ketika tetesan air dan hujan es ini menjadi sangat ringan sehingga udara yang bergerak ke atas menyokong mereka, dengan demikian mereka mulai turun dari awan menjadi hujan, hujan es, dan lain-lain.

Allah berfirman di dalam Al-Quran:

“Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya. . . ” (QS an­Nur: 43)

Akhir-akhir ini, ahli meteorologi mengetahui pembentukan, struktur, dan fungsi awan secara detail dengan menggunakan peralatan canggih seperti pesawat, satelit, komputer, balon, dan mempelajari angin dan petunjuknya untuk ukuran kelembaban dan variasinya dan untuk menentukan tingkatan dan variasi tekanan atmosfir.

Ayat yang terdahulu setelah menyebutkan awan dan hujan, belum bicara tentang hujan es dan halilintar.

“…. dan Allah (juga) menurunkan (butiran­-butiran) es dari langit (yaitu) dari (gumpalan­gumpalan awan seperti) gunung-gunung maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan. ” (QS an-Nur: 43)

AWAN 2

Para ahli meteorologi telah menemukan awan cumulonimbus ini, hujan es, mencapai ketinggian 25.000 sampai 30.000 kaki (4,7 sampai 5,7 mil) seperti gunung, sebagaimana telah tersebut di dalam al-Quran :

“. . . dan Allah (juga) menurunkan (butiran­butiran) es dari langit. . .. ” (QS an-Nur: 43)

Ayat ini mungkin menimbulkan sebuah pertanyaan mengapa ayat ini menyebutkan “….halilintarnya’ dalam referensi hujan es? Apakah hal ini berarti hujan es adalah faktor mayoritas dalam menghasilkan halilintar? Mari kita lihat buku yang berjudul “Meteorology Today” juga menyebutkan tentang hal ini. Buku itu menyebutkan bahwa awan mengelektrifikasikan hujan es melalui bagian tetesan awan yang paling dingin dan kristal es. Sebagai tetesan cair yang bertabrakan dengan hujan es, mereka membeku yang berhubungan dan melepaskan panas yang terpendam. Dia menjaga permukaan hujan es lebih hangat daripada sekeliling kristal es.

Ketika hujan es berhubungan dengan kristal es, maka terjadilah fenomena yang penting. Aliran elektron dari objek yang lebih dingin menuju objek yang lebih panas. Oleh karena itu, hujan es menjadi beraliran negatif Efek yang sama terjadi ketika tetesan yang paling dingin berhubungan dengan sebongkah hujan es dan pecahan es kecil yang beraliran positif Geretan partikel beraliran positif ini kemudian dibawa ke bagian atas awan oleh udara yang bergerak ke atas. Hujan es yang beraliran negatif turun ke dasar awan, dengan demikian bagian awan yang paling rendah beraliran negatif. Aliran negatif ini kemudian turun ke tanah menjadi halilintar. Kami menyimpulkan bahwa hujan es ini karena faktor hasil dari halilintar.

Informasi tentang halilintar akhir-akhir ini ditemukan. Sampai tahun 1600 Masehi, ide Aristoteles tentang meteorologi sangat dominan. Sebagai contoh, dia menyatakan bahwa atmosfir berisi dua jenis pernafasan keluar, basah dan kering. Dia juga mengatakan bahwa guntur adalah suara tumbukan dari pernafasan keluar yang kering dengan sekitar awan dan halilintar adalah peradangan dan terbakarnya pernafasan keluar yang kering dengan api yang kecil dan redup. Inilah beberapa ide tentang meteorologi yang dominan pada saat al-Quran turun pada 14 abad yang lalu.

Dikutip dari buku harun yahya  “ bukti kebenaran Al-Qur’an”

PERHITUNGAN KONSTANTA C MENURUT AL-QUR’AN

CAHAYA

Mungkin Anda pernah tahu bahwa konstanta C atau kecepatan cahaya, yaitu kecepatan tercepat di jagad raya ini diukur, dihitung, atau ditentukan oleh United Stated National of Bureau Standards sebesar:

C = 299.792,4574 + 0,0011 km/det

Saya akan memaparkan teori fisika menghitung konstanta c menurut Al-Qur’an ditemukan oleh pakar fisika mesir DR. Mansour Hassab Elnaby .

Ayat yang menyebutkannya :

”Dialah (Allah) yang menciptakan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya tempat-tempat bagi perjalanan bulan itu agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan…..” (QS. Yunus 10:5)

”Dialah (Allah) yang menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan.  Masing-masing beredar dalam garis edarnya” (QS. Al-Anbiyaa’ 21:33)

“…..Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS. Al-Hajj 22:47)

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya seribu tahun menurut perhitunganmu.“ (QS. As-Sajdah 32:5)

Dari ayat-ayat Al-Qur’an tersebut dapat disimpulkan bahwa:

Jarak yang dicapai Sang Urusan selama satu hari sama dengan jarak yang ditempuh bulan selama 1.000 tahun atau 12.000 bulan.

Penjelasan:

Dalam hal ini digunakan obyek bulan karena sesungguhnya sistem penanggalan dan bilangan tahun yang ada dalam ajaran Islam adalah berdasarkan peredaran bulan.

Dalam kesimpulan di atas dapat dikatakan terdapat dua ‘waktu’ yaitu waktu yang ditempuh Sang Urusan (ruang waktu 1) dan waktu yang ditempuh, dirasakan, atau yang ada dalam ingatan manusia (ruang waktu 2).

Besaran yang dapat dipersamakan terhadap dua ‘waktu’ tersebut adalah jarak, dalam hal ini jarak yang dicapai Sang Urusan adalah sama dengan jarak yang ditempuh bulan selama 1.000 tahun. Sang Urusan yang dimaksud adalah sesuatu yang ‘dibawa’ oleh malaikat. Dapat dimengerti bahwa penggunaan jarak tempuh bulan selama 1.000 tahun dalam perhitungan ini sangat logis karena (pertama) sebenarnya baik manusia dan bulan ada dalam satu waktu (yaitu ruang waktu 2), dan (kedua) bulan beredar secara tetap dan kontinu sehingga dapat diterima jika dijadikan sebagai acuan yang ada dalam ingatan manusia.

Jarak yang dipersamakan tersebut dapat dijabarkan dalam persamaan:

C x t  =  1.200 x L

Dimana:

C = Kecepatan Sang Urusan

t   = Waktu satu hari

L  = Panjang rute edar  bulan selama 1 bulan

Dalam perhitungan ini digunakan ‘Sistem Kalender Bulan Sidereal’ yaitu didasarkan atas pergerakan relatif bulan dan matahari terhadap bintang dan alam semesta.

1 hari     = 23 jam 56 menit 4,0906 detik

= 86.164,0906 detik

1 bulan  = 27,321661 hari

Sebuah catatan tentang kecepatan bulan (v)

Ada dua tipe kecepatan bulan :

1. Kecepatan relatif terhadap bumi yang bisa dihitung dengan

rumus berikut:

ve = 2 . pi . R / T

dimana  R = jari-jari revolusi bulan = 384.264 km

T = periode revolusi bulan = 655,71986 jam

Jadi  ve =  2 x pi x 384.264 km / 655,71986 jam

=  3682,06313 km/jam

2.  Kecepatan relatif terhadap bintang atau alam semesta. Yang ini yang akan diperlukan.

Einstein mengusulkan bahwa kecepatan jenis kedua ini dihitung dengan mengalikan

yang pertama dengan cosinus a, sehingga:

v  =  Ve x Cos a

Dimana a  adalah sudut yang dibentuk oleh revolusi bumi selama satu bulan sidereal

a  = 26,92848o

JADI :

C.t  = 12.000.L

C.t = 12.000.v.t

C.t = 12.000 . ( ve . Cos a  ) . T

C  = 12.000 . ve . Cos a . T / t

C  = 12.000 x 3682,06313 km/jam x 0,89157 x 655,71986 jam / 86.164,0906 det

C  = 299.792,78951 km/det

Jika dibandingkan dengan penetapan United Stated National of Bureau Standards

C = 299.792,4574 + 0,0011 km/det

KOREKSI PERHITUNGAN:

  1. Dalam perhitungan ini masih terdapat kekurangan yaitu adanya pembulatan angka pada setiap tahap karena keterbatasan data, seperti data jari-jari bumi, dll.
  2. Perhitungan ini dan perhitungan yang dilakukan oleh US National Bureau Standards masih sama-sama mengandung kekurangan karena sebenarnya bukan semata-mata perhitungan tetapi juga terdapat pengukuran dengan peralatan manusia yang tidak menghasilkan nilai mutlak.

KESIMPULAN:

Terdapat konsistensi yang baik antara perhitungan yang dihasilkan oleh US NBS dengan perhitungan yang didasarkan pada informasi Al-Qur’an.

Wallahualam bishowab

Based on M. Zuhdi’s Presentation, revised by Ais (2003)